Zaman berubah, di satu waktu seorang wanita berusaha menghubungi kekasihnya di luar kota dengan menelpon operator terlebih dahulu, sementara di masa kini mereka bertegur sapa dan bertatap muka melalui layanan webcam melalui jejaring dunia maya. Ditahun 2011, warung internet sudah menjamur, seperti cendawan di musim hujan, tapi dulu tentu sangat jarang kita jumpai.
Semasa SMA kelas 2, ada masa-masa dimana kami menjadi pelanggan tetap sebuah warnet. Namanya Onestop 3, atau biasa kami singkat OS 3. Jangan tanyakan saya dimana Onestop 1, sebab tahu-tahu saja yang ada Onestop 2 dan Onestop 3.
Sepulang menimba ilmu (halah) di sekolah, biasanya langsunglah kami ngacir ke warnet. Saat itu Friendster sedang ngetren-ngetrennya. Maka beramai-ramailah kami membuka akun friendster. Ada yang membuka dengan alasan “memperluas jaringan dan kenalan” , “menambah teman baru”, “membuang waktu” atau malah ngecengin cewek. Dengan khusyuk kami duduk di depan laptop sambil menjelajah “EP-ES” sambil mengganti tema dan memasang glitter picture (akui sajalah kalian pernah memasuki fase seperti itu, hahaha).
Namun yang paling seru adalah saat bersama-sama bermain game. Pertama-tama yang ngetop adalah Counterstrike. Dengan peta kesukaan cs_assault (atau kami baca asalut) dan de_dust2 (kami baca dedas), bisa sampai petang kami menyembah monitor dan lupa makan (seperti si Egi yang keracunan main Ayodance dan kena tipes haha). Style bermain bermacam-macam pula. Ada yang tepekur dengan ngejogrok di pipa menunggu musuh datang, ada yang ketagihan makai sniper, ada yang sembunyi di balik pintu, dan sebagainya.
Lalu mendadak demam Warcraft mewabah. Semua ketagihan main DotA dan saudara-saudara tirinya. Untuk yang ini, saya angkat tangan, sebab sampai sekarang saya masih ga ngerti walau sudah diajarin. Kalau sekedar main sih enteng, tapi kalau masalah beli item dll masih belum hapal.
Warnet OS3 ini juga cukup populer di kalangan sekolah lain kala itu, terutama F. Tandean. Maka berebutanlah kami dengan anak-anak SD-SMP yang lebih dahulu pulang sekolah. Tiba di warnet agak lengah sedikit saja, maka wuzz, sekejap tempat duduk sudah diisi jemaah dari sekolah sebelah (dan walaupun masih kecil, main game nya jago2 pulak itu). Kalau sudah begini, apa boleh baut. Terpaksa pulang, atau kalau sudah kebelet pengen internetan, ya nunggu dengan sabar ataupun ke warnet lain.
Kecepatannya pun angin-anginan, kadang kenceng banget, kadang selemot keong. Kalau internet mati mendadak, mulailah operator yang tak bersalah menjadi korban kebiadaban kami yang mengeluh tanpa jeda.
Sangking seringnya ke warnet ini, sampai – sampai sang operator hafal dengan wajah-wajah busuk kami. Namun kami yakin dan percaya, kakak operator pastilah selalu setia menjaga warnet walau setiap hari didatangi bocah-bocah brutal.
Emang sebrutal apa sih ? Yah, bayangkan aja, 90 % tombol spasi di setiap komputer di warnet itu pasti sudah tak berbentuk. Semua karena kebrutalan dan keganasan mereka yang bermain Ayo Dance, membanting tombol spasi dengan penuh rasa dendam.
Sayang, warnet ini sekarang udah tutup. Terakhir saya melewatinya beberapa bulan lalu, dan sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Yah, sama seperti Friendster yang dibabat Facebook, dan Facebook yang disaingi Twitter, dan Twitter yang diintai sama BIN, demikian waktu sekali lagi telah mengecoh kita, dia melesat pergi tanpa kita sadari.



